Preloader
  • 082120171321
  • Jl. Sukanagara No.48, Antapani Kidul, Kec. Antapani, Kota Bandung, Jawa Barat

Petisi Paguyuban Warga Jaga Giri: Tolak Geothermal, Jaga Gunung Untuk Kesejahteraan Masyarakat

Kami adalah Paguyuban Warga Jaga Giri, yang terdiri atas berbagai masyarakat yang hidup di Gunung-gunung Jawa Bagian Barat. Kami hidup di atas tanah yang subur, air yang melimpah dan kearifan lokal yang telah menghidupi kami secara turun temurun.

Gunung bagi kami bukan hanya sekedar tempat fisik, melainkan ruang hidup yang memiliki dimensi sakral yang menjadi sumber penghidupan. Kami percaya bahwa “gunung teu meunang dilebur, leuweung teu meunang digempur, cai teu meunang dihalangan” (gunung tidak boleh dirusak, hutan tidak boleh dibabat, air tidak boleh dibendung).

Namun saat ini, gunung-gunung di wilayah Jawa bagian Barat terancam akibat Industri Geothermal yang terbukti di wilayah lain, telah merenggut unsur-unsur penghidupan, menimbulkan kerusakan sosial-ekologis yang tidak dapat dipulihkan, dan memperdalam kemiskinan. Hal ini dibuktikan dari kerusakan di berbagai gunung di seluruh indonesia yang berdampak pada masyarakat.

Pertama, Geothermal adalah energi yang rakus air. PTLP Ijen yang berkapasitas 31,2 megawatt dalam operasinya menghabiskan 6,6 jt liter air per hari. Sementara itu, dua situ di sekitar PLTP Kamojang surut setelah beroperasinya perusahaan.

Kedua, Geothermal menyebabkan sumber mata air menjadi tercemar. Di Dieng, banyak sumber mata air yang berbau telur busuk, terasa payau, berwarna hitam dan kuning. Air yang turun ketika hujan, sering terkontaminasi asam dari debu uap dan asap Geothermal, sehingga petani kentang harus menyiram ulang tanamannya.

Ketiga, Geothermal menyebabkan bencana ekologis dan merenggut nyawa seperti peristiwa keracunan gas di Sorik Marapi, Sarulla dan Dieng. Geothermal juga menyebabkan ledakan gas di Dieng dan Patuha, amblesan tanah dan semburan lumpur panas di Mataloko. Selain itu gempa minor juga terjadi dengan intensitas tinggi di PLTP Gunung Salak, Dieng dan Darajat yang menyebabkan retaknya tembok rumah warga.

Keempat, Geothermal menyebabkan bencana sosial. Di Dieng warga yang menolak geothermal diintimidasi oleh pihak perusahaan. Di Desa Narimbang, Tampomas, warga yang menolak geothermal diancam tidak mendapatkan bantuan pemerintah.

Kelima, Geothermal tidak dapat menyerap tenaga kerja lokal. Di Ijen, hanya 0,8% warga dengan usia produktif yang terserap pada masa pengerjaan konstruksi selama 1,5 sampai 2 tahun. Hal ini membuktikan bahwa keberadaan proyek besar tidak selalu berbanding lurus dengan kesejahteraan masyarakat sekitar.

Kami sudah hidup sejahtera tanpa adanya Geothermal. Gunung Gede Pangrango, sedikitnya menyuplai 10 ton sayur-mayur per hari ke Jabodetabek. Gunung Ciremai telah menyuplai ubi dan sayuran ke wilayah kabupaten sekitar. Masyarakat Gunung Tampomas menyuplai beras dan buah-buahan seperti durian, cengkeh, coklat dan alpukat sampai ke wilayah Cirebon, Bandung dan Jakarta. Di Gunung Prakasak, pertanian dan perkebunan warga menghasilkan beras dan buah-buahan dengan perputaran ekonomi mencapai kurang lebih 78 miliar perbulan. Sementara di Gunung Halimun, warga menghasilkan padi, cengkeh, dan buah-buahan seperti pisang, durian, dan alpukat, yang memasok kebutuhan di pasar lokal dan buah-buahan di Jakarta.

Putaran ekonomi yang mensejahterakan masyarakat pegunungan di Jawa bagian Barat selama ini, ditopang oleh keberadaan air yang melimpah. Air adalah syarat kesejahteraan bagi masyarakat. Di sisi lain gunung-gunung tersebut berperan sebagai area resapan dan penyangga bagi wilayah lain. Ini dibuktikan di Gunung Tampomas terdapat kurang lebih 140 titik mata air, dengan debit 7.000 liter air per detik, untuk memenuhi kebutuhan air minum di 10 kecamatan dan pertanian di kabupaten sekitar. Begitupun dengan Gunung Ciremai, terdapat kurang lebih 97 titik mata air yang menghasilkan 9.000 liter air per detik, yang memenuhi kebutuhan air di kabupaten sekitarnya.

Oleh karena itu kami menuntut:

  1. Hentikan seluruh rencana proyek Geothermal di Pegunungan Jawa bagian Barat dan di seluruh Indonesia
  2. Hentikan seluruh proyek pembangunan yang merusak lingkungan dan merampas ruang hidup masyarakat di Pegunungan Jawa bagian Barat dan di seluruh Indonesia
  3. Dukung penuh sektor pertanian sebagai sektor ekonomi potensial, serta pelestarian lingkungan di Pegunungan Jawa bagian Barat dan di seluruh Indonesia untuk kesejahteraan masyarakat